Perkebunan Nusantara I (Bahasa)

1) Pemberitaan RAN Leuser Watch yang berjudulElephant Corridor Has Been Cleared by Indonesian State Company Despite Moratorium on Palm Oil by President.” (14 December 2018)

2) Pemberitaan RAN Leuser Watch yang berjudul, “Forest Loss Rises Sharply in Critical Leuser Ecosystem Lowlands“ (17 Mei 2019)

3) Pemberitaan RAN Leuser Watch yang berjudul ,” Investigation underway into forest loss for palm oil in Leuser Ecosystem.” (04 Juni 2019)

4) Pemberitaan RAN Leuser Watch yang berjudul ,” Amidst COVID-19 lockdown deforestation for palm oil climbs.” (24 Juni 2020)

(1) Laporan pertama menyoroti dugaan kegiatan pembukaan lahan oleh PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) pada koridor habitat gajah Sumatra yang terancam punah yang berada dalam Ekosistem Leuser sebulan setelah Presiden Jokowi mengumumkan kebijakan moratorium untuk pembukaan lahan yang berlaku selama tiga tahun.

(2) Laporan kedua menyoroti pembukaan lahan yang terjadi di PTPN I Kebun Blang Tualang seluas 24 hektar yang dibuka pada bulan Januari hingga April 2019.

(3) Laporan ketiga menyebutkan bahwa PTPN I merespon pemberitaan RAN dengan pernyataan komitmen untuk menjadi penjaga bagi kawasan hutan di Ekosistem Leuser. Pemberitaan tersebut juga menunjukkan citra satelit planet selama periode Desember 2017 hingga Juni 2019 menunjukkan lokasi dan waktu pembukaan hutan dan pengembangan jalan baru menuju kawasan hutan.

(4) Laporan keempat menyoroti PTPN I telah gagal mengadopsi kebijakan “Tanpa Deforestasi, Tanpa Lahan Gambut, dan Tanpa Eksploitasi” (NDPE) sesuai dengan ekspektasi konsumen global dan kebijakan dari Brand dan Trader ternama, dan masih melakukan pembukaan jalan dan
lahan di area yang berpotensi Nilai Konservasi Tinggi (High Conservation Value – HCV) dan Stok Karbon Tinggi (High Carbon Stock – HCS) pada Ekosistem Leuser.

Mei 2019

Kami melakukan pendekatan dengan PTPN I untuk meminta klarifikasi terkait isu-isu yang diberitakan oleh RAN dan meminta Peta Tanam (Areal Statement) perkebunan PT Tualang Sawit (Blang Tualang)

Juli 2019

Berdasarkan Peta Tanam yang dikirimkan oleh PTPN I, kami menemukan ada areal dengan keterangan “Areal Cadangan” pada konsesi PTPN I. Kami meminta klarifikasi lebih lanjut terkait pengertian “Areal Cadangan” ke PTPN I.

Februari 2020

Kami menghubungi PTPN I untuk meminta Peta Lokasi Rencana Penanaman Kembali (replanting) seluas 249 hektar tersebut.

Maret 2020

Kami kembali menghubungi PTPN I untuk meminta informasi tambahan seperti tahun penanaman sebelumnya pada areal rencana replanting, dan informasi tutupan lahan saat ini di lapangan.

Juli 2020
Kami kembali menghubungi PTPN I untuk meminta klarifikasi terkait laporan RAN tanggal 24 Juni 2020 dan menindak lanjuti permintaan informasi tambahan berupa bukti/ informasi tutupan lahan. Kami juga mengundang PTPN I untuk melakukan pertemuan virtual (Video Conference) untuk mengklarifikasi isu yang diberitakan oleh RAN.

Juni 2019

PTPN I menyampaikan bahwa pada prinsipnya PTPN I mendukung seluruh kegiatan serta program penerapan prinsip-prinsip keberlanjutan dan kepedulian lingkungan dalam operasionalnya sebagaimana diatur dalam Perundang-undangan tentang Perkebunan.

Terkait isu pembukaan lahan dengan tutupan pohon lebat pada Januari s.d. Oktober 2018 dan berlanjut pada Januari s.d April 2019, PTPN I menjelaskan bahwa tidak benar melakukan deforestasi, hanya melakukan peremajaan tanaman (replanting) pada beberapa lokasi yang berada dalam HGU PTPN I dengan melampirkan Peta Tanam dari kebun Tualang Sawit (Blang Tualang).

Desember 2019

PTPN I menjelaskan bahwa “Areal Cadangan” merupakan areal bekas/ eks penanaman kelapa sawit yang jumlah populasi tanamannya semakin berkurang akibat tidak dikelola sehingga areal tersebut berkembang menjadi belukar yang terdiri dari gulma kayu dengan populasi padat serta beberapa tanaman kelapa sawit yang tidak terpelihara.

Beberapa areal pada “Areal Cadangan” yaitu seluas 249 hektar dapat ditanam kembali dan direncanakan akan dilakukan dalam rentang tahun 2020 s.d. 2023.

Februari 2020

Atas permintaan Musim Mas, PTPN I melampirkan peta rencana penanaman kembali seluas 249 hektar yang direncanakan akan dilakukan dalam rentang tahun 2020 s.d. 2023.

Maret 2020     

PTPN I menginformasikan bahwa mereka telah bekerja sama dengan pihak yang berwenang untuk mengkonfirmasi status tutupan lahan dari HGU PTPN I perkebunan PT Tualang Sawit (Blang Tualang) dilapangan.

Juli 2020

Kami mengadakan conference call dengan PTPN I pada tanggal 06 Juli 2020 untuk membahas lebih lanjut terkait kebijakan keberlanjutan PTPN I dan isu-isu yang dilaporkan oleh RAN.

Hasil dari diskusi sebagai berikut:

  1. Kegiatan penanaman ulang (replanting) terakhir dari PTPN I adalah pada tahun 2019 dan di luar areal kawasan hutan. Selama tahun 2020, PTPN I tidak melakukan kegiatan pembukaan lahan dan penanaman ulang. Adapun kegiatan pembukaan lahan di dalam HGU PTPN I yang terjadi di tahun 2020, seperti yang diduga dalam laporan NGO, merupakan garapan oleh masyarakat. PTPN I berkomitmen untuk tidak melakukan replanting dan new planting sampai adanya kepastian hasil analisis spasial/ pemuktahiran dari pihak yang berwenang. Selain itu, PTPN I juga menyampaikan bahwa PTPN I akan melakukan penilaian HCS dan HCV dengan melibatkan lembaga yang berkompeten.
  2. Isu yang dipermasalahkan pada publikasi RAN/ Leuser Watch pada tanggal 24 Juni 2020 dengan judul “Amidst COVID-19 lockdown deforestation for palm oil climbs” yang menyatakan PTPN I gagal menerapkan kebijakan NDPE, PTPN I menyampaikan bahwa PTPN I telah memiliki Kebijakan Sawit Lestari dan bersedia dibagikan kepada stakeholder.

Musim Mas akan terus melanjutkan komunikasinya dengan PTPN I dan akan memonitor Perkembangannya.

 

language LANGUAGE
language