Musim Mas
Language

Cerita Pekebun Swadaya Binaan Musim Mas

Di balik hamparan kebun kelapa sawit di Desa Bangko Balam, Rokan Hilir, Riau, ada kisah tentang keteguhan, keberanian, dan proses belajar yang tidak pernah berhenti. Kisah itu datang dari Roslina Br. Tampubolon (48 tahun), yang akrab disapa Ibu Ros, seorang pekebun perempuan yang membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari diri sendiri, lalu meluas ke keluarga dan komunitas.

Ibu Ros telah berkebun sejak 2008. Lahir dari keluarga petani, ia melanjutkan pengelolaan kebun milik keluarga suaminya. Namun, perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Pada tahun 2017, ketika suami dan anaknya sakit, Ibu Ros harus mengambil peran sebagai tulang punggung keluarga. Di tengah situasi itu, ia tetap mengurus kebun dan memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi.

Sosok Roslina Br. Tampubolon, salah satu pekebun Perempuan yang dibina oleh Musim Mas. Kisahnya membuktikan baha ketika akses terhadap pengetahuan, peluang, dan dukungan terbuka bagi perempuan, mereka tidak hanya mampu mengembangkan potensi diri, tetapi juga berperan aktif dalam memperkuat ekonomi keluarga, mengambil keputusan yang lebih percaya diri, serta mendorong kemajuan di komunitasnya.

Perjalanan Ibu Ros Belajar Mengelola Kebun Secara Berkelanjutan

Ketika pertama kali mengelola kebun sawit keluarga, Ibu Ros mengandalkan pengalaman sebelumnya dalam mengurus sawah dan tanaman palawija keluarganya. Ia percaya bahwa tanaman yang subur ditandai dengan daun yang hijau, dan cara terbaik mencapainya adalah dengan memberikan pupuk sebanyak mungkin. Namun, hasil yang didapat tidak sesuai harapan. Dari 8 hektar kebun yang dikelolanya, hasil kebun yang didapat  hanya sekitar 375 Kg/hektar/bulan, sebuah angka yang jauh dari optimal.

Ia mulai menyadari bahwa ada hal yang perlu diperbaiki, meskipun belum sepenuhnya memahami apa yang harus diubah.

Perubahan mulai terlihat ketika pada tahun 2019, Ibu Ros diperkenalkan pada Program Pemberdayaan Pekebun Swadaya Musim Mas. Awalnya, ia merasa ragu, terutama ketika diminta menunjukkan legalitas lahan sebagai salah satu syarat. Namun, di balik keraguan itu, ada rasa ingin tahu yang terus tumbuh.

Ibu Ros kemudian mencari tahu lebih jauh, dengan mengamati, bertanya, dan melihat langsung bagaimana program tersebut berjalan. Setelah dua bulan lamanya mencari tahu, dan mendapati Penatua atau orang yang dituakan di kampungnya mengikuti program tersebut, Ibu Ros akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Program Pemberdayaan Pekebun Swadaya Musim Mas, di bawah Asosiasi Pekebun Swadaya Kelapa Sawit Negeri Seribu Kubah (APSKS-NSK) yang diketuai oleh Bapak Kateni.

Melalui pelatihan praktik perkebunan yang baik dalam program tersebut, Ibu Ros mulai memahami bahwa keberhasilan tidak ditentukan oleh seberapa banyak input yang diberikan, tetapi seberapa tepat cara pengelolaannya. Ia belajar tentang dosis pupuk yang sesuai, teknik pemupukan di piringan yang bersih dari gulma, serta pentingnya perawatan kebun secara konsisten.

Perubahan praktik perkebunan ini membawa dampak nyata. Produksi kebunnya meningkat signifikan.

“Dulu kebun saya tidak stabil dan sering mengalami trek (penurunan produksi buah). Setelah saya menerapkan cara berkebun yang baik, hasil kebun saya selalu stabil dan meningkat hingga 5 kali lipat dari sebelumnya. Peningkatan hasil kebun ini tentu menambah penghasilan keluarga saya” ujarnya

Dengan menerapkan praktik perkebunan yang baik,Ibu Ros berhasil meningkatkan hasil kebun secara signifikan, membuktikan bahwa pengetahuan dan ketekunan mampu membawa perubahan nyata.

Ruang Baru bagi Ibu Ros untuk Bertumbuh

Seiring dengan seringnya menghadiri berbagai pertemuan pekebun yang diselenggarakan oleh Program Pemberdayaan Pekebun Swadaya Musim Mas, Ibu Ros mulai menyukai kegiatan berorganisasi karena merasa banyak mendapatkan ilmu dan pengalaman baru. Ibu Ros mulai membuka diri terhadap peran yang lebih luas. Transisi inilah yang kemudian membawanya ke tahap berikutnya.

Konsisten mengikuti seluruh kegiatan Asosiasi, Ibu Ros menemukan peluang dan ruang untuk dapat terus berkembang.

Ketika Musim Mas memperkenalkan Women Smallholders Program (WSP), Ibu Ros melihatnya sebagai kesempatan untuk melengkapi perjalanan yang telah ia mulai. Jika sebelumnya ia belajar memperbaiki kebun, kini ia ingin memperkuat dirinya sebagai individu, sebagai perempuan yang memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan, kesehatan keluarga, hingga pengelolaan ekonomi rumah tangga.

“Saya ingin berkembang lebih jauh, bukan hanya untuk kebun, tapi juga untuk diri sendiri dan keluarga saya,” katanya.

WSP merupakan program pelatihan dan pendampingan yang ditujukan bagi pekebun perempuan dan istri pekebun, dengan fokus pada penguatan kapasitas sosial dan ekonomi agar mereka dapat berkontribusi lebih besar dalam keluarga, usaha perkebunan, dan komunitas.

Memulai Perubahan untuk Keluarga dan Komunitas

Dalam WSP, salah satu pelatihan pertama yang diikuti Ibu Ros adalah tentang kesehatan dan nutrisi keluarga. Pelatihan ini juga menjadi momen reflektif baginya. Selama ini, ia belum mengurus kesehatan keluarga dengan baik, bahkan tidak pernah melakukan pemeriksaan kesehatan diri sendiri.  Dari pelatihan tersebut, ia menyadari bahwa kesehatan adalah fondasi utama dari semua aktivitas yang ia jalani.

“Kalau saya sakit, siapa yang mengurus keluarga dan kebun?” ungkapnya.

Kesadaran ini mendorongnya untuk melakukan perubahan nyata. Ia mulai mengatur pola makan keluarga dengan mengurangi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, serta memperbanyak metode memasak yang lebih sehat seperti merebus dan mengukus. Ia juga rutin berolahraga dan mendorong keluarganya untuk menjalani gaya hidup yang lebih sehat.

Perubahan ini tidak selalu mudah. Penyesuaian pola makan sempat mendapat penolakan dari keluarga. Namun, dengan komitmen yang kuat, Ibu Ros tetap konsisten.

Konsistensi Ibu Ros dalam mengonsumsi makanan sehat kini membuahkan hasil. Selain dirinya merasa lebih sehat, kesehatan suami dan anaknya pun ikut membaik. “Badan saya sekarang lebih enteng dan tidak mudah lelah sejak berat badan saya turun sebanyak 18 kg, ditambah lagi emosi saya sekarang lebih stabil. Suami dan anak saya pun lebih sehat. Dulu, suami saya sering tiba-tiba sesak nafas dan butuh ke rumah sakit untuk mendapatkan oksigen. Tapi sekarang sudah jauh berkurang. Bahkan sudah jarang ke rumah sakit.”

Ibu Ros bersama Suami, kini hidup lebih sehat setelah mengubah pola makan, setelah mengikuti pelatihan Women Smallholder Program.

Tidak hanya ingin bermanfaat untuk keluarganya, Ibu Ros juga ingin berdedikasi untuk perempuan-perempuan di komunitas terdekatnya dengan berbagi pengalaman dan pengetahuan cara hidup sehat dengan mengikuti Training of Trainers WSP yang diselenggarakan oleh Musim Mas. Program Pelatihan ini ditujukan bagi peserta yang telah mengikuti Women Smallholders Program Musim Mas pada pelatihan Kesehatan Keluarga, untuk menjadi trainer atau pelatih bagi komunitasnya

“Saya juga ingin teman-teman dan keluarga di lingkungan desa saya bisa hidup lebih sehat. Karena itu saya sangat bersemangat untuk menjadi kader pelatih”

Ibu Ros memberikan pelatihan kesehatan kepada komunitas perempuan di desanya. Sebagai peserta Training of Trainers WSP, ia dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk menjadi agen perubahan di lingkungannya.

Mengutakkan kapasitas Diri untuk Keberlanjutan Usaha

Tidak berhenti pada aspek kesehatan, Ibu Ros terus mengembangkan kapasitas dirinya melalui pelatihan literasi keuangan dan pendampingan bisnis. Dari sini, ia mulai memahami pentingnya perencanaan keuangan serta pengelolaan pendapatan yang lebih terarah dan berkelanjutan.

Sejalan dengan proses tersebut, program WSP yang diselenggarakan oleh Musim Mas turut memperkuat langkahnya dengan mendampingi para peserta dalam membentuk kelompok usaha sembako sebagai upaya awal penguatan ekonomi. Pendampingan ini dilaksanakan bersama Ir. Diana Chalil dari Universitas Sumatera Utara, dengan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pencapaian keuntungan, tetapi juga pada pengembangan kapasitas Perempuan, seperti kemampuan mengambil keputusan, memecahkan masalah, hingga membangun kepercayaan diri dalam berorganisasi.

Bagi Ibu Ros, kesempatan ini menjadi titik balik yang semakin konkret. Keterlibatannya dalam pembentukan kelompok usaha sembako membuka ruang baru untuk belajar sekaligus bertumbuh. Program ini tidak hanya memberikan dukungan modal, tetapi juga pendampingan intensif dalam menjalankan usaha sehari-hari.

“Banyak sekali tantangan yang kami hadapi pada saat memulai bisnis. Banyak permasalahan yang harus kami diskusikan bersama di dalam kelompok, dan kami harus mengambil keputusan sendiri untuk operasional usaha. Tapi Ibu Diana dan tim pendamping Musim Mas membantu kami untuk bisa melihat kembali untung dan rugi dari setiap keputusan yang kami ambil”

Upaya yang konsisten ini akhirnya membuahkan hasil. Dalam kurun waktu satu tahun, usaha yang mereka jalankan berhasil mencatatkan keuntungan hingga Rp70 juta.

Keluarga tetap Menjadi Priorias

Di tengah berbagai peran yang dijalani, Ibu Ros tetap menempatkan keluarga sebagai prioritas utama. Ia mengatur waktunya dengan disiplin, memulai hari dengan mengurus kebutuhan keluarga, sebelum melanjutkan aktivitas di kebun dan organisasi.

Seiring bertambanya kegiatan yang dilakukan, untuk melanjutkan pengelolaan kebun, ia mempekerjakan sembilan orang dari lingkungan sekitarnya. Selain membantu operasional kebun, langkah ini juga membuka peluang bagi orang lain untuk mendapatkan penghasilan.

Bagi Ibu Ros, pertumbuhan bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang bagaimana memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

“Dari semua yang saya lakukan, saya ingin anak-anak saya bisa meraih pendidikan setinggi mungkin. Saya juga ingin membuktikan bahwa perempuan pekebun juga bisa berkembang,” ujarnya.

Di Tengah kesibukannya menjalani berbagai aktivitas di kebun, asosiasi dan komunitas, Ibu Ros tetap menjalankan perannya sebagai Perempuan di rumah.

Perjalanan yang Terus Bertumbuh

Kisah Ibu Ros menunjukkan bahwa pemberdayaan adalah proses yang saling terhubung. Dimulai dari memperbaiki praktik di kebun, lalu berkembang menjadi penguatan kapasitas diri, hingga akhirnya berdampak pada keluarga dan komunitas.

Perubahan tidak terjadi secara instan. Ia dimulai dari keberanian untuk belajar, mencoba, dan terus melangkah meski dihadapkan pada tantangan.

Dari kebun yang kini lebih produktif, hingga komunitas yang semakin kuat, perjalanan Ibu Ros menjadi pengingat bahwa ketika perempuan diberi akses, ruang, dan kesempatan, mereka mampu menciptakan perubahan yang nyata.