Lanskap

Sejak kebijakan kami ditetapkan pada tahun 2014, kami menyadari bahwa isu-isu seperti kesehatan hutan, ketahanan pangan, keanekaragaman hayati, dan mata pencaharian semuanya saling terkait. Peluang terbaik untuk memaksimalkan dampak adalah dengan mengintegrasikan tema-tema ini ke dalam komunitas atau wilayah geografis yang sama.

Dari berbagai proyek, keterlibatan, dan studi diagnostik independen yang kami lakukan, kami belajar bahwa:

  • Banyak pemasok tidak memiliki kapasitas untuk mengadopsi praktik keberlanjutan karena sumber daya yang terbatas, termasuk untuk melakukan latihan penelusuran atau melibatkan petani swadaya mereka seperti program petani sawit kami.
  • Petani swadaya menghadapi keterbatasan akses pengetahuan (misalnya Tentang Praktik Pertanian yang Baik) dan sumber daya untuk melakukan penanaman secara berkelanjutan.
  • Terdapat ketidakpastian dalam hal legalitas tanah, terutama di sekitar kawasan kritis seperti Ekosistem Aceh-Leuser.
  • Keterlibatan pemerintah dan pemangku kepentingan lokal sangat penting untuk meningkatkan proyek dan mencegah “leakage market” atau pasar sawit yang tidak berkelanjutan.

Oleh karena itu, diperlukan respons terkoordinasi dalam perusahaan di seluruh industri dan sektor dan tingkat pemerintahan.

Pendekatan lanskap: Respons terkoordinasi untuk memenuhi peta jalan kami

Seperti kata pepatah: Jika ingin berjalan cepat, maka jalanlah sendiri. Jika ingin berjalan jauh, maka jalanlah bersama-sama.

Kami mengakui keterbatasan yang mungkin dimiliki satu perusahaan dan kami memanfaatkan hubungan kami dengan pelanggan, mitra teknis, dan LSM kami untuk berkolaborasi dan mengintegrasikan upaya mereka ke dalam proyek kami saat ini dengan pemasok dan petani kami.

Karena kami bercita-cita untuk menjadi perusahaan kelapa sawit berkelanjutan terkemuka, kami ingin menunjukkan kepemimpinan melalui pendekatan lanskap dan komitmen kami terhadap peta jalan kami menuju rantai suplai yang bertanggung jawab, termasuk dengan menetapkan target untuk melibatkan para pemasok dan petani swadaya.

Area prioritas

Berdasarkan area sumber kami, volume, dan relevansi masalah di lokasi geografis, kami mengidentifikasi empat provinsi di Indonesia:

Kami memiliki laman web khusus untuk Provinsi Aceh, yang dapat Anda rujuk di sini.

Riau adalah salah satu provinsi pemasok utama kami. Kami memperkirakan bahwa jumlah pabrik pemasok kami mencapai 70–80% dari total pabrik di provinsi ini, berkontribusi pada 23% dari total pengadaan minyak sawit mentah (CPO) kami.

Riau merupakan provinsi penyumbang terbesar produksi minyak sawit nasional dan merupakan penyumbang terbesar kelima terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Deforestasi di lanskap ini telah parah. Diperkirakan perkebunan kelapa sawit ilegal telah mengambil alih setidaknya 40% dari Taman Nasional Tesso Nilo. Kawasan lindung kritis lainnya adalah lahan gambut Giam Siak Kecil, yang sebagian besar didominasi oleh sektor bubur kayu dan kertas. Riau rentan terhadap kebakaran hutan selama musim kemarau tahunan.

Baca laporan diagnostik kami untuk Riau di sini.

Program petani sawit

Sebagai bagian dari program petani swadaya kami dengan IFC (International Finance Corporation), anggota Bank Dunia, kami melibatkan petani yang memasok ke pabrik-pabrik kami yang berlokasi di Riau. Pabrik-pabrik tersebut adalah PT SAR (Sinar Agro Raya), PT BANI (Bahana Nusa Interindo), dan PT ISB (Indomakmur Sawit Berjaya). Lebih lanjut tentang program ini dapat dibaca di sini.

Musim Mas bekerja sama dengan UNDP (United Nations Development Programme) berusaha untuk melibatkan desa-desa di Riau untuk membangun program petani sawit.

Kerja sama eksternal

Musim Mas adalah anggota Satgas Tesso Nilo sejak 2016. Kami bekerja sama dengan WWF Indonesia dan Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo untuk memitigasi konflik manusia-gajah di sekitar taman nasional Tesso Nilo.

Kami juga merupakan bagian dari program Penghentian WWF, yang membantu pemangku kepentingan rantai suplai untuk mendaftarkan dan menelusuri TBS secara digital dari perkebunan ke pabrik. Program kemamputelusuran ini akan memungkinkan pembeli (pabrik dan pedagang) untuk mengidentifikasi dan menilai legalitas dari mana TBS berasal, dimulai dengan uji coba di sekitar Taman Nasional Tesso Nilo.

Kami berkolaborasi dengan rekan industri dalam proyek tingkat lanskap partisipatif secara bottom up untuk memahami dan memetakan area NKT-SKT, serta petak tanah yang ada dan yang potensial untuk ekspansi para petani. Kami telah melakukan finalisasi kabupaten Siak dan PT. Teguh Karsa Wana Lestari (TKWL) sebagai pabrik kami untuk dilibatkan, dan telah melakukan analisis mendalam, pelatihan untuk membangun kesadaran dengan staf pabrik, dan penilaian di lapangan untuk mengidentifikasi area SKT potensial.

Selain itu, kami terlibat dalam koalisi sektor swasta, yang disebut Program Lanskap Siak-Pelalawan yang bertujuan untuk mendukung Inisiatif Siak Hijau yang dilakukan pemerintah dalam upayanya untuk mencapai produksi minyak sawit berkelanjutan dan menyelaraskan penyampaian komitmen sumber dengan tujuan pembangunan dari kabupaten. Tujuan-tujuan ini termasuk melindungi dan meningkatkan hutan, meningkatkan mata pencaharian petani kecil dan masyarakat lokal, dan mengembangkan data kemamputelusuran. Pemangku kepentingan yang terlibat antara lain Cargill, Neste, PepsiCo, Golden AgriResources, Unilever, CORE, Sustainable District Platform (LTKL), Bupati Siak (Pemda).

Untuk meningkatkan sistem pemantauan dan verifikasi deforestasi, kami berinvestasi dalam pengembangan sistem pemantauan hutan berbasis radar baru yang tersedia untuk umum yang dikenal sebagai Radar Alerts for Detecting Deforestation (RADD). Siak-Pelalawan akan menjadi salah satu daerah uji coba dan akan diintegrasikan ke dalam program lanskap kami.

Kabupaten Musi Banyuasin (MUBA) adalah salah satu daerah dengan jumlah pabrik pemasok terbanyak di basis pasokan kami. MUBA adalah kabupaten terbesar kedua di provinsi ini dan produsen minyak sawit terbesar kabupaten ini. Meskipun deforestasi di MUBA sudah parah, masih banyak hutan yang tersisa (160.000 hektar). Wilayah ini mencakup tiga kawasan lindung seluas 75.000 hektar yang memberikan perlindungan bagi habitat penting harimau, termasuk lanskap Sembilang-Dangku. MUBA menawarkan kombinasi unik antara pemerintah daerah yang mendukung, banyak perusahaan progresif, dan berbagai inisiatif lanskap yang menciptakan wadah langka untuk perubahan. Kabupaten ini adalah kabupaten pertama berupaya menuju Sertifikasi Yurisdiksi RSPO.

Keterlibatan pemasok

Kami menerapkan Program Layanan Penyuluhan (Extension Services Program atau ESP) untuk petani swadaya di rantai pasokan salah satu pabrik pemasok kami, PT Bastian Olah Sawit (PT BOS), untuk membantu mereka meningkatkan produktivitas melalui penerapan praktik pertanian yang baik. PT BOS termasuk dalam salah satu grup pemasok yang diprioritaskan untuk dilibatkan.

Kami juga bekerja sama dengan Daemeter, Cadasta Foundation, dan konsultan IT GeoTraceability, untuk mengembangkan dan menerapkan Sistem Penelusuran Rantai Suplai Kelapa Sawit yang berfungsi penuh di satu lokasi di MUBA. Sistem ini akan menjadi aplikasi seluler lacak balak yang memungkinkan setiap tandan buah segar (TBS) ditelusuri di sepanjang rantai suplai. Proyek uji coba ini akan mencakup rantai suplai PT BOS.

Program petani sawit

Seperti disebutkan di atas, kami menerapkan program ESP untuk pemasok kami PT BOS, membantu melatih petani mereka tentang praktik pertanian yang baik. Per Sep 2019, 395 petani sudah dilibatkan.

Selain itu, kami menyelesaikan proyek dengan Rainforest Alliance pada tahun 2019 untuk mengatasi masalah keberlanjutan yang berkaitan dengan petani sawit swadaya di wilayah tersebut. Program ini juga ditujukan untuk mendukung pengembangan pendekatan yurisdiksi untuk seluruh kabupaten. Dalam kurun waktu satu tahun, 525 petani dilibatkan.

Kerja sama eksternal

Kami bermaksud untuk mendukung program lanskap dengan IDH menggunakan Rencana Pertumbuhan Ekonomi Hijau pemerintah kabupaten sebagai panduan dan mengembangkan Pusat Petani Sawit melalui Center of Excellence – unit yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan oleh Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) dan IDH yang bertujuan untuk pembangunan berkelanjutan daerah. Kegiatan ini meliputi pelatihan petugas pertanian yang ditempatkan di kantor kabupaten atau desa.

Kalimantan Barat menyumbang 5% dari basis pasokan kami dan merupakan salah satu dari enam provinsi yang menyumbang 80% dari basis pasokan kami. Kami mampu menelusuri hingga 88% perkebunan di dalam provinsi, merepersentasikan persentase tertinggi di antara enam provinsi.

Keterlibatan pemasok

Kami juga telah melakukan banyak verifikasi pabrik sebagai bagian dari penilaian risiko kami terhadap pemasok kami. Laporan diagnostik tentang verifikasi pabrik yang dilakukan di Kalimantan Tengah bertujuan untuk memberikan peta jalan yang jelas tentang apa artinya mencapai transformasi keberlanjutan secara konkret. Laporan ini memberikan masukan yang membantu kami dalam mengembangkan pendekatan strategis untuk mengatasi masalah yang diangkat di tingkat lanskap. Baca laporan lengkapnya di sini.

Program petani sawit

Kami telah mendirikan program petani sawit yang menyasar para petani sawit yang memasok ke pabrik pengolahan kami, PT Sarana Esa Cita.

Kemitraan eksternal

Kami bekerja sama dengan Aidenvironment untuk menjajaki potensi proyek konservasi Sambas di bidang agroforestri. Program ini bertujuan untuk menyeimbangkan konservasi hutan dengan pembangunan ekonomi, dengan mendukung masyarakat lokal dalam hal pengetahuan dan kapasitas perhutanan sosial dengan:

  • Menyediakan akses ke kawasan hutan lokal dan legalisasi tanah.
  • Membangun praktik pemanfaatan dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan.
  • Membangun model usaha kecil untuk meningkatkan penggunaan lahan.

Baca lebih lanjut tentang proyek ini di sini.

Join our mailing list

language Bahasa
language