Musim Mas
Language

Cerita Pekebun Swadaya Binaan Musim Mas

Di sebuah desa di Kabupaten Rokan Hilir, Riau, nama Kateni dikenal bukan hanya sebagai pekebun kelapa sawit. Bagi banyak pekebun swadaya di sekitarnya, ia adalah contoh bahwa kerja keras, kemauan belajar, dan keberanian untuk berubah dapat mengubah kehidupan. Di usia 58 tahun, perjalanan hidup Kateni membentang jauh, dari seorang nelayan di pesisir Sumatera Utara hingga menjadi penggerak perubahan bagi ratusan pekebun swadaya di Rokan Hilir, Riau.

Dari Laut ke Kebun

Kateni lahir di Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara, sebuah daerah pesisir tempat sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup pada laut. Seperti kebanyakan keluarga di daerah tersebut, Kateni tumbuh dengan kehidupan sebagai nelayan.

Namun setelah menikah, arah hidupnya mulai berubah. Mertuanya menyarankan agar ia mencoba menjadi pekebun, karena beberapa anggota keluarga telah lebih dahulu berkebun dan mampu memperoleh penghasilan yang lebih stabil. Saran itu mendorong Kateni untuk memikirkan masa depan yang berbeda bagi keluarganya.

Memulai dari Nol di Riau

Pada tahun 1997, Kateni dan istrinya memutuskan merantau ke Riau. Dengan tabungan yang dikumpulkan dari berbagai pekerjaan seperti menjadi buruh upah, beternak ayam, hingga menanam sayuran, mereka akhirnya mampu membeli lahan seluas dua hektar untuk kebun sawit.

Namun perjalanan tersebut tidak mudah. Kateni sangat berhati-hati dalam mengelola keuangan. Ia tidak menghabiskan seluruh tabungannya untuk kebun, tetapi menyisihkan dana darurat agar keluarganya tetap memiliki pegangan. “Kalau semua uang dipakai untuk membeli pupuk, lalu besok keluarga saya makan apa?” kenangnya.

Pada masa awal berkebun, hanya ia dan istrinya yang merawat kebun tersebut. Tekadnya sederhana, ingin anak-anaknya memperoleh pendidikan yang lebih baik daripada dirinya, yang bahkan tidak lulus sekolah dasar.

Kateni bersama Istri, merawat kebun sawit mereka dengan sungguh-sungguh, dengan tekad dapat menyekolahkan ketiga anaknya hingga sarjana.

Bertahan di Tengah Tantangan

Tahun-tahun pertama penuh tantangan. Serangan hewan liar seperti babi dan landak sering merusak tanaman muda. Di saat pekebun lain akhirnya menyerah, Kateni memilih bertahan. Bahkan selama lima tahun pertama, ia tidak pulang ke kampung halamannya agar dapat menjaga kebunnya dengan lebih baik. “Saya tidak ingin gagal. Setidaknya sampai kebun saya benar-benar menghasilkan,” ujarnya.

Meski tekadnya kuat, cara berkebunnya saat itu masih sangat sederhana. Ia memupuk tanpa takaran yang jelas, menggunakan pestisida tanpa pengendalian yang tepat, dan tidak pernah mencatat hasil panen.

“Waktu itu saya merasa semua yang saya lakukan sudah benar,” katanya sambil tertawa mengingat masa lalu.

Pertemuan dengan Program Pemberdayaan Pekebun Swadaya Musim Mas

Perubahan besar dalam perjalanan Kateni dimulai ketika pada tahun 2017 Program Pemberdayaan Pekebun Swadaya Musim Mas hadir di desanya. Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas pekebun melalui pelatihan praktik perkebunan yang baik dan berkelanjutan.

Pada awalnya Kateni menjadi salah satu orang yang paling skeptis dengan program ini. Pengalaman kurang menyenangkan dengan beberapa organisasi sebelumnya membuatnya tidak mudah percaya.

Namun, sebuah kejadian kecil kemudian mengubah pandangannya. Suatu hari, salah satu staf dari program ini memesan kue dari istrinya untuk kegiatan pelatihan. Ketika Kateni mengantarkan pesanan tersebut, ia tanpa sengaja mendengar materi pelatihan yang sedang berlangsung. Rasa penasarannya mulai muncul.

Pada pertemuan berikutnya, ia memberanikan diri bertanya lebih jauh dan mengundang tim lapangan Musim Mas untuk melihat kebunnya. Dari kunjungan itu, tim menjelaskan bahwa tanaman sawitnya menunjukkan tanda kekurangan pupuk urea, yang ditandai dengan warna daun yang menguning pada banyak pohon sawit miliknya.

Awalnya Kateni masih menyimpan kecurigaan, bahkan mengira bahwa Musim Mas hanya ingin bereksperimen dengan pupuk baru dan menjadikan pekebun swadaya sebagai percobaan. Namun setelah dijelaskan secara rinci mengenai kondisi tanaman dan cara pemupukan yang tepat, ia memutuskan mencoba.

Tiga bulan kemudian, perubahan mulai terlihat. Daun sawit di kebunnya menjadi lebih hijau dan sehat. Melihat hasil tersebut, pada tahun 2018 Kateni memutuskan bergabung sepenuhnya dalam Program Pemberdayaan Pekebun Swadaya Musim Mas.

Kateni bersama Mastor P Sitorus, tim lapangan Musim Mas, yang terus mendampingi dan mendukungnya sejak awal program hingga hari ini.

Produksi Meningkat Hingga Lebih dari Dua Kali Lipat

Sejak saat itu, Kateni mulai menerapkan berbagai praktik yang dipelajari dari program tersebut, mulai dari pemupukan yang tepat, perawatan kebun, teknik panen yang baik, hingga pencatatan hasil panen.

Ketika pertama kali melakukan pencatatan, produktivitas kebunnya tercatat sekitar 12 ton per hektar per tahun. Seiring waktu, hasil tersebut meningkat secara signifikan.

“Pada tahun 2023, saya pernah mencapai 25 ton per hektar per tahun,” ujarnya.

Peningkatan tersebut membuat Kateni semakin yakin bahwa pengetahuan dan praktik yang ia pelajari melalui program pendampingan benar-benar membawa perubahan.

Menggerakkan Pekebun Swadaya Lain di Rokan Hilir

Ketekunan dan kegigihan Kateni dalam menerapkan praktik perkebunan yang baik, membuat Kateni menjadi contoh bagi pekebun swadaya lainnya di desa.

Ketika para pekebun swadaya di Rokan Hilir membentuk Asosiasi Pekebun Swadaya Kelapa Sawit Negeri Seribu Kubah (APSKS-NSK) pada tahun 2019 dengan dukungan pendampingan dari Program Pemberdayaan Pekebun Swadaya Musim Mas, Kateni dipercaya menjadi ketuanya.

Di bawah kepemimpinannya, asosiasi berkembang pesat. Dari 341 anggota pada awal berdiri, jumlahnya meningkat menjadi 995 anggota pada tahun 2025 dengan total lahan lebih dari 2.600 hektar.

Bagi Kateni, visi APSKS-NSK untuk mencetak pekebun yang berilmu, berwawasan lingkungan dan berkelanjutan, serta mampu berprestasi di dalam dan di luar negeri, diwujudkan melalui langkah nyata, yaitu mendorong seluruh anggota menuju sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Upaya ini sejalan dengan tujuan Program Pemberdayaan Pekebun Swadaya Musim Mas.

Menurut Kateni, penerapan praktik perkebunan yang berkelanjutan sesuai dengan prinsip sertifikasi bukan merupakan tantangan yang terbesar bagi asosiasi. Karena menurutnya, anggotanya telah memiliki kesadaran yang baik terhadap praktik berkelanjutan. Pada awal sertifikasi, tantangan yang dihadapi adalah persiapan audit serta pembiayaan. Namun, Musim Mas memberikan dukungan dan pendampingan penuh untuk kebutuhan ini.

Kegiatan Kateni bersama para anggota Asosiasi Pekebun Swadaya Kelapa Sawit Negeri Seribu Kubah (APSKS-NSK), saling belajar dan tumbuh bersama dalam perjalanan sebagai pekebun swadaya.

“Kalau sekarang, tantangan yang paling utama adalah terkait legalitas lahan dan STDB yang dibutuhkan terutama untuk ISPO. Kami sebagai pengurus Asosiasi serta tim dari Musim Mas berupaya membantu dan mendampingi anggota kami, sehingga dapat memenuhi sertifikasi yang merupakan mandatori dari Pemerintah Indonesia”

Membangun Kesejahteraan Anggota

Di bawah kepemimpinan Kateni, asosiasi juga berhasil memanfaatkan peluang ekonomi dari sertifikasi keberlanjutan. Dengan dukungan Musim Mas, APSKS-NSK telah berhasil menjual Kredit RSPO. Sejak tahun 2021 hingga 2025, total kredit yang berhasil dijual senilai lebih dari 21 Milyar Rupiah. Insentif yang diperoleh tersebut dimanfaatkan untuk memperkuat kapasitas organisasi, pembiayaan BPJS Ketenagakerjaan, serta diinvestasikan kembali demi kesejahteraan anggota.

Salah satu pencapaian penting terjadi pada tahun 2025, ketika asosiasi berhasil membangun kantor secara mandiri. Bagi Kateni, kantor yang dibangun di atas lahan seluas 2.000 m2 tersebut bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol perjalanan kolektif para pekebun anggota APSKS-NSK.

Mimpi Kateni untuk membangun kantor asosiasi akhirnya terwujud pada tahun lalu. Pencapaian ini merupakan hasil kerja keras dan kolaborasi bersama, yang didedikasikan sebagai warisan berkelanjutan bagi generasi penerus.

“Asosiasi ini bukan hanya milik saya dan pengurus saat ini, namun milik penerus-penerus kami juga. Karena itu, saya ingin meninggalkan warisan kepada mereka. Kami juga ingin menanamkan nilai-nilai kepada penerus tentang perjuangan yang kami lakukan saat ini,” ujarnya.

Warisan untuk Generasi Berikutnya

Bagi Kateni, perjalanan ini bukan hanya tentang meningkatkan produksi kebun, tetapi juga tentang membangun masa depan yang lebih baik bagi komunitas pekebun.

Ia bahkan mulai berbagi pengalaman sebagai guru tamu di salah satu sekolah menengah di Rokan Hilir, serta menyiapkan sebuah buku yang berisi nilai-nilai hidup yang ia pelajari sepanjang perjalanan hidupnya.

“Saya memang tidak lulus sekolah dasar,” katanya, “tetapi itu tidak pernah menghentikan saya untuk terus belajar.”

Dari seorang nelayan di pesisir Sumatera Utara hingga menjadi penggerak perubahan bagi lebih dari seribu pekebun di Riau, kisah Kateni menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari satu langkah sederhana, yaitu keberanian untuk belajar dan mencoba cara yang lebih baik. Langkah tersebut kini juga menginspirasi banyak pekebun lain untuk tumbuh bersama menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.

“Terima kasih kepada Musim Mas yang sudah mendampingi kami dengan sabar dari awal sampai sekarang. Kami jadi banyak belajar, bukan hanya soal kebun, tapi juga bagaimana saling mendukung dan tumbuh bersama. Harapan kami, semoga kebersamaan ini terus berlanjut, dan ke depan kehidupan kami sebagai pekebun bisa semakin baik, anak-anak kami pun punya masa depan yang lebih cerah.” Tutup Kateni.