Tunas Baru Lampung/ Sungai Budi Group

Tunas Baru Lampung adalah anak perusahaan Sungai Budi. Perusahaan tersebut terdaftar sebagai penghasil CPO yang berkantor pusat di Jakarta, Indonesia. Tunas Baru Lampung adalah salah satu anggota RSPO sejak tahun 2006. Profil keanggotan RSPOnya dapat ditemukan di sini.

1) Artikel Foreshints, yang berjudul, “Top officials investigate extent of palm oil company’s peatland violations” (28 November 2016)
2) Laporan Chain Reaction Research yang berjudul, “Tunas Baru Lampung TBK
3) Laporan Rainforest Foundation Norway dan Aidenvironment yang berjudul, “Nordic investments in banks financing Indonesian palm oil” (Mei 2017)
4) Laporan Greenpeace yang berjudul, “Deforestation case studies” (Desember 2017) yang dikirimkan secara langsung kepada kami melalui email.
5) Artikel Chain Reaction Research yang berjudul, “Tunas Baru Lampung: Contested land and peat clearing could drive substantial value loss” (Maret 2018)
6) Laporan Greenpeace yang berjudul “Final Countdown: Now or Never to Reform the Palm Oil Industry” (19 September 2018)

(1), (2), (3), (4), (5) dan (6) Tidak mempublikasikan kebijakan NDPE

Terdapat areal tanam yang tidak dilaporkan di ACOP 2015

Pengembangan baru yang tidak memenuhi kriteria RSPO NPP

Deforestasi yang dilakukan oleh anak perusahaan, PT Solusi Jaya Perkasa (SJP) di Kalimantan Barat

Pengembangan lahan baru yang dilakukan oleh anak perusahaan, PT Dinamika Graha Sarana (PT DGS) di wilayah yang ditargetkan untuk restorasi oleh Badan Restorasi Gambut

Tidak mematuhi persyaratan izin yang dikeluarkan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2012

Sengketa lahan dengan masyarakat setempat sejak tahun 2007 di Sumatera Selatan

Dugaan deforestasi seluas 4.100 hektar hutan, sebagian besar Lahan Gambut antara Agustus 2015 dan Oktober 2017 oleh PT Samora Usaha Jaya (PT SUJ) di Sumatera Selatan.

Januari 2017
Kami melakukan pendekatan dengan TBL terkait dengan dugaan yang disebutkan dalam laporan Chain Reaction Research. Kami menerapkan ‘controlled purchase’ terhadap pabrik TBL di Sumatera Selatan

Agustus 2017
Kami tidak membeli dari pabrik yang berada di Sumatera Selatan dan saat ini rantai pasok kami tidak berhubungan dengan PT Samora Usaha Jaya (SUJ)

TBL menekankan bahwa operasinya telah mematuhi hukum dan mereka telah menjelaskannya secara langsung kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan kehutanan tentang kegiatan mereka pada Desember 2016.

Pada waktu yang bersamaan, kami akan memfollow-up diskusi kami dengan TBL mengenai hasil survei tanah PT SUJ dan pendekatan mereka dengan Badan Restorasi Gambut (BRG)

Kami akan memverifikasi pernyataan TBL mengenai pengembangan PT SJP kedepannya di Kalimantan Barat dan Perusahaan tidak membuka lahan

Januari 2018
Kami sampai di pangkalan untuk memulai rapat.

Februari 2018
Rapat telah diatur untuk 24 April 2018.

April 2018
Kami bertemu dengan tim manajemen untuk mencari klarifikasi tentang poin-poin yang diangkat dalam laporan Chain Reaction Research (4).

Juli 2018
Pembelian terakhir kami adalah pada Juli 2018.

Desember 2016
TBL mengadakan pertemuan dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) (Ministry of Environment and Forestry) untuk membahas isu pembukaan Lahan Gambut di Jakarta.

Januari 2017
TBL mengklarifikasi kepada Musim Mas bahwa mereka sendiri memiliki kebijakan keberlanjutan sejak Januari 2015 dan mereka tidak menggunakan metode pembakaran dalam membuka lahan.

TBL mengkonfirmasi bawah semua izin legal yang diperlukan dan lisensi mereka dapatkan sesuai dengan undang-undang Perkebunan, yang menyebabkan perpanjangan izin konsesi.

Maret 2018
TBL mengeluarkan sebuah pernyataan yang menyanggah tuduhan dari artikel Chain Reaction Research, dengan menyatakan bahwa artikel tersebut berisi ketidakakuratan.

April 2018
Tim manajemen mengklarifikasi poin-poin yang diangkat dalam laporan Chain Reaction Research, sebagaimana tercermin dalam pernyataan yang diterbitkan pada Maret 2018.

Agustus 2018
TBL mengakui membuka Lahan Gambut di PT SJP dan PT Bumi Perkasa Gemilang hingga akhir 2016.

language Bahasa
language