Multiple Suppliers (Tesso Nilo)

1) Eyes of the Forest (EoF) [sebuah koalisi gabungan dari LSM Lingkungan Riau seperti: Walhi Riau, Jikalahari dan WWF- Infonesia] menerbitkan laporan berjudul, “No One is Safe” (05 April 2016)
2) Laporan Eyes of the Forest (EoF) yang berjudul, “Enough is Enough” (08 June 2018)

Lanskap Tesso Nilo menggambarkan sebuah mikrokosmos dari tantangan yang dihadapi di seluruh Indonesia. Laporan diagnostik kami di Provinsi Riau menyediakan informasi mengenai latar belakang.

Taman Nasional Tesso Nilo berlokasi di Provinsi Riau, Sumatera, Indonesia. Pemerintah Indonesia mendeklarasikan wilayah tersebut menjadi taman nasional dan pusat konservasi pada tahun 2004.

Di wilayah ini terjadi perambahan dan penggundulan hutan. EoF menyelidiki rantai pasokan TBS yang ditanam secara ilegal di dalam atau di dekat wilayah Taman Nasional Tesso Nilo dan Koridor Harimau Bukit Batabuh, karena di kedua wilayah tersebut terjadi deforestasi yang sangat cepat.

(1) Laporan EoF tentang 19 pabrik yang berpotensi menerima minyak ilegal dari dalam atau di dekat taman nasional. Dari 19 pabrik, 14 pabrik terdaftar sebagai pemasok Musim Mas.

  1. PT Berlian Inti Mekar Rengal (BIM)
  2. PT Citra Riau Sarana 1
  3. PT Citra Riau Sarana 2
  4. PT Citra Riau Sarana 3
  5. PT Gembilang Sawit Lestari
  6. PT Inti Indosawit Subur Ukui 1
  7. PT Indi Indosawit Subur Ukui 2
  8. PT Makmur Andalan Sawit
  9. PT Mitra Unggul PUsaka Segati
  10. PT Peputra Supra Jaya (PSJ)
  11. PT Sumbar Andalas Kencana Muara Timpeh
  12. PT Sawakar Sawit Raya
  13. PT Tri Bakti Sarimas 1
  14. PT Tri Bakti Sarimas 2

LSM meminta semua perusahaan kelapa sawit untuk memantau secara menyeluruh untuk menghentikan pembelian dari pemasok yang berlokasi di taman nasional.

(2) Terdapat 14 pemasok yang teridentifikasi oleh EoF yang membeli TBS ilegal dari Tesso Nilo pada Januari – Juni 2017. Dari 14 pemasok, hanya 2 pemasok yang terdaftar sebagai pemasok Musim Mas. Kedua pemasok tersebut adalah:
a) PT Gemilang Sawit Lestari
b) PT Makmur Andalan Sawit (MAS)

Semua pemangku kepentingan (masyarakat lokal, pemerintah lokal, dll.) perlu dilibatkan dalam perencanaan perlindungan hutan. Dalam jangka panjang, rencana tersebut juga perlu memasukkan pertimbangan lingkungan sosial dan lainnya.

April 2016
Kami tidak membeli TBS secara langsung dari wilayah yang disebutkan di dalam laporan. Kami melakukan pendekatan dengan 14 perusahaan/pabrik kelapa sawit yang disebutkan dalam laporan untuk meminta klarifikasi mengenai tuduhan pelanggaran tersebut.

PT BIM menjawab bahwa mereka tidak memiliki kebijakan sumber ilegal di tempat.

PT PSJ mengakui bahwa ada TBS dari truk yang terdaftar dalam laporan EoF yang dikirim ke pabrik mereka.

Mei 2016
Kami menindaklanjuti klarifikasi yang diberikan oleh para pemasok dan berencana melakukan verifikasi lapangan di pabrik pemasok dengan konsultan pihak ketiga.

02 Juni 2016
Kami melakukan pertemuan pemangku kepentingan dengan EoF, WWF dan perusahaan minyak lainnya di Singapura. Poin utama dari pertemuan tersebut adalah: pemantauan pihak ketiga harus dilakukan untuk menghilangkan TBS ilegal dari rantai pasokan, upaya penelusuran harus mengarah pada peningkatan standar keberlanjutan, dan sebuah satuan tugas yang dipimpin oleh pemerintah Indonesia, EoF dan WWF, akan didirikan untuk menangani pertanian ilegal dan masyarakat di taman nasional.

28 Juli 2016
Kami mengadakan pertemuan dengan berbagai pemangku kepentingan di Jakarta untuk menindaklanjuti hasil pertemuan pada bulan Juni lalu.

10 Agustus 2016
MM melakukan verifikasi pabrik terhadap pabrik PT BIM dan penilai tidak menemukan bukti bahwa mereka mengambil dari kawasan lindung (Bukit Batabuh).

15 Agustus 2016
Sebuah satuan tugas yang melibatkan pemerintah Indonesia dan pemangku kepentingan dibentuk. Satuan tugas Tesso Nilo dipimpin oleh EoF dan WWF. Satuan tugas ini merupakan program berbagai pemangku kepentingan yang melibatkan pejabat pemerintah, sektor swasta dan LSM yang bertujuan untuk mencari solusi mengenai isu deforestasi di taman nasional.

Oktober 2016
Kami melakukan penilaian pabrik di PT PSJ. Selama penilaian pabrik, manajemen pabrik menunjukkan upaya mereka untuk mencegah terjadinya dengan melakukan pemeriksaan harian terhadap TBS yang masuk, yang membutuhkan setiap truk untuk menjelaskan sumber TBS. Mereka juga memasukkan daftar hitam truk TBS ilegal yang bersumber dari kawasan lindung.

21 November 2016
Kami mengikuti pertemuan berbagai pemangku kepentingan di Jakarta, bersama dengan pejabat pemerintah dari pusat pemerintahan Indonesia.

Mei 2018
Kami mencari klarifikasi dari PT MAS mengenai truk berisi TBS ditemukan Tim EoF berasal dari Taman Nasional Tesso Nilo.

Kami mengurangi volume sumber dari 14 pabrik asli menjadi lima pabrik, sebagai bagian dari proses Controlled Purchase untuk keluhan ini.

Juli 2018
Kami bertemu dengan para pemangku kepentingan dari WWF, EoF dan perusahaan kelapa sawit lainnya yang disebutkan dalam laporan di Jakarta.

Agustus 2018
Sebagai tindak lanjut dari pertemuan pada bulan Juli 2018 dengan para pemangku kepentingan (WWF, EoF dan perusahaan Kelapa Sawit lainnya), kami terus menjunjung komitmen kami untuk tidak menerima buah sawit ilegal yang berasal dari kawasan ekosistem Tesso Nilo. Kami akan terus mendukung inisiatif WWF yang akan datang di lanskap Tesso Nilo, melalui berbagai cara, termasuk melalui keanggotaan kami dalam Aliansi Bebas Api/ Fire Free Alliance.

September 2018
Kami telah memberikan pelatihan Penelusuran ke Perkebunan (Traceability To Plantation/ TTP) di PT MAS dan PT BIM untuk memetakan sumber TBS, memahami profil rantai pasokan, dan identifikasi resiko sumber untuk pabrik. TTP mulai diterapkan di masing-masing pabrik oleh manajemen mereka sendiri pada akhir September 2018.

April 2016
Saat ini, pemasok yang berada dalam rantai pasokan kami tidak berhubungan dengan Tesso Nilo dan Koridor Harimau Bukit Batabuh. Sementara beberapa kasus yang pernah memasok dari daerah tersebut, sejak saat itu mensosialisasikan persyaratan pembelian mereka kepada pemasok TBS, melakukan investigasi lapangan terhadap sumber TBS mereka dan pemasok TBS yang masuk dalam daftar hitam.

Juli 2016
Kami percaya bahwa solusi dengan melibatkan pendekatan tingkat lanskap dengan berbagai pemangku kepentingan yang berkolaborasi dapat mencapai dampak yang diinginkan di lapangan. Lanskap Tesso Nilo adalah salah satu lanskap prioritas kami untuk mencapai visi transformasi. Kami telah berpartisipasi dalam satuan tugas Tesso Nilo sejak 28 Juli 2016.

Desember 2016
Kami melakukan verifikasi lapangan terhadap lima pemasok pabrik kami yang disebutkan didalam laporan. Berdasarkan metode pemeriksaan sampling, pemasok kami tidak memasok TBS dari wilayah konservasi.

April 2017
Untuk merevitalisasi Tesso Nilo, Pemerintah Indonesiaa berencana untuk melakukan relokasi terhadap Petani kecil dari wilayah Tesso Nilo ke wilayah lainnya dibawah naungan program reformasi lahan. Pemerintah akan menyediakan sejumlah lahan relokasi bagi petani sawit di Tesso Nilo dan bagi petani yang telah membudidayakan lahannya selama 12 tahun akan diizinkan untuk memanen hasil tanamnya selama satu siklus sampai selesai. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai rencana pemerintah Indonesia, silahkan klik di sini.

Mei 2018
PT MAS menegaskan bahwa truk tersebut tidak memasok ke pabrik mereka. Mereka telah meyakinkan kami bahwa sejak pendekatan terakhir kami, kami telah mensurvei semua pemasok TBS mereka dan mengambil koordinat GPS. Mereka mencari bantuan dari departemen kehutanan dan lingkungan untuk menilai apakah Perkebunan ini terletak di dalam Taman Nasional Tesso Nilo atau kawasan hutan apa pun.

Di sisi lain, PT PSJ dan PT BIM yang disebutkan dalam laporan EoF 2016 tidak disebutkan dalam laporan EoF 2018.

language Bahasa
language