Ensem Sawita

Ensem Sawita merupakan Pabrik Kelapa Sawit swasta yang berlokasi di Aceh Timur, Indonesia.

1) Laporan Rainforest Action Network (RAN) yang berjudul, “The Last Place On Earth – Exposing The Threats To The Leuser Ecosystem: A Global Biodiversity Hotspot Deserving Protection” (11 November 2014)

2) Laporan Rainforest Action Network (RAN) yang berjudul, “PT Agra Bumi Niaga: Continues To Destroy Elephant Habitat And Sell Conflict Palm Oil To Suppliers of Major Brands Across The Globe” (Juli 2017)

Untuk informasi lebih mengenai inisiatif Leuser kami, silahkan download factsheet kami.

(1) Laporan pertama menyoroti Ensem Sawita sebagai salah satu perusahaan yang beroperasi secara legal dan illegal didalam kawasan Ekosistem Leuser yang dilindungi.

(2) Ensem Sawita disoroti karena membeli dari PT Agra Bumi Niaga (ABN).

Dalam artikel yang ditulis oleh RAN, RAN melakukan investigasi lapangan yang diduga ditemukan bukti aktif, penebangan ilegal di habitat gajah Sumatera yang terancam punah didalam hutan hujan ekosistem Leuser. Pemasok yang dimaksud adalah produsen Kelapa Sawit yang dikenal sebagai PT Agra Bumi Niaga (PT ABN) yang memasok ke pabrik pengolahan kelapa sawit tetangga yang dioperasikan oleh PT Koperasi Prima Jasa (KPJ) yang memasok ke pembeli utama.

Menurut RAN, kegiatan yang didokumentasikan tersebut melanggar moratorium yang diumumkan oleh Presiden Indonesia pada bulan April 2016 dan instruksi dari Gubernur Aceh yang dibuat pada tanggal 17 Juni 2016 yang memerintahkan perusahaan yang sama untuk menghentikan semua kegiatan pembukaan hutan, termasuk daerah yang memiliki izin.

Kami telah aktif melakukan pendekatan dengan pemasok yang berlokasi di sekitar Ekosistem Leuser sejak laporan RAN yang pertama pada November 2014.

Lanskap Aceh Leuser merupakan prioritas utama kami dalam melakukan pendekatan dengan industri. Kami bekerja dengan pemain Kelapa Sawit lainnya dalam upaya untuk mengidentifikasi solusi lanskap yang terukur.

Fokus wilayah kami adalah di Aceh Tamiang, Aceh Timur dan Aceh Singkil. Pekerjaan lanskap berbagai pemangku kepentingan akan melibatkan pemerintah setempat mengenai pengembangan kebijakan dan perencanaan tata ruang, mengidentifikasi LSM lokal
untuk mempelopori proyek. Kami akan menindaklanjutinya dengan detail yang lebih spesifik pada pekerjaan lanskap dalam waktu dekat.

Juni 2015
RAN melaporkan Ensem Sawita memiliki 500 hektar lahan dengan sertifikat Hak Guna Usaha illegal. Lahan tersebut berlokasi di wilayah High Conservation Value (HCV), yang merupakan habitat orangutan. (30 April 2015) ·

Kami mengklarifikasi isu kepemilikan/ beroperasinya Perkebunan illegal di Aceh Tamiang, yang tidak memiliki HGU di wilayah HCV – habitat orangutan (500 ha) ·

Melakukan verifikasi dokumen dan proses operasional legal ·

Kami bertemu dengan Ensem Sawita pada 19 Juni 2015 dan melakukan penilaian kunjungan ke pabrik pada 28 September 2015. ·

Ensem Sawita mengklarifikasi dugaan 500 hektar lahan ilegal yang dilaporkan oleh RAN telah dijual setelah mereka menemukan adanya konflik legalitas pada tahun 2011.

Juli 2017
Kami bertemu dengan Ensem Sawita pada Agustus 2017.

Januari 2018
Kami berkunjung untuk memastikan protokol penelusuran mereka.

Kami berkolaborasi dengan industri lainnya dalam program dukungan pemasok untuk membantu Ensem Sawita untuk menjalankan rencana aksinya.

Agustus 2017
Ensem Sawita menegaskan komitmen keberlanjutannya dan mengkonfirmasi hal-hal di bawah ini:

  • Semua pembelian dari PT ABN akan dihentikan.
  • Perusahaan akan memulai sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) di pabriknya. Kebijakan keberlanjutan internal yang sesuai dengan kebijakan NDPE kami akan dibentuk dan diberitahukan kepada kami sebelum di implementasikan.
  • Rancangan kerja (termasik inisiasi ketelusuran) beserta jadwal pelaksanaan semua hal di atas akan disampaikan lebih lanjut.

September 2017
Ensem Sawita telah berkomitmen untuk menerapkan sebuah rencana aksi dengan bekerja sama dengan Musim Mas dan Golden Agri-Resources untuk memastikan bahwa praktek keberlanjutannya sejalan dengan komitmen kebijakan kedua yang terakhir.

Mereka telah memulai program penelusuran untuk memastikan bahwa semua TBSnya dipasok dari pemasok yang diketahui, dan untuk memastikan bahwa tidak ada buah yang dihasilkan dari ekosistem sensitif yang ada dalam rantai pasokannya.

September 2018
Ensem Sawita telah melakukan latihan penelusuran sejak kunjungan bersama Musim Mas dan Golden Agri Resources pada awal 2018 untuk memberikan bantuan dalam keterlacakan untuk implementasi Perkebunan. Saat ini, Ensem Sawita telah mengidentifikasi lebih dari 90% pemasok TBS-nya beserta dengan lokasinya. Ensem Sawita akan melanjutkan latihan keterlacakan hingga 100%.

Januari 2019
Ensem Sawita telah menyelesaikan pelatihan keberlanjutan dan mengidentifikasi 100% pemasok TBSnya.

Ensem Sawita akan terus mempertahankan data tahunannya.

language Bahasa
language