Berita Umum

35. MUSIM MAS DAN YAYASAN TAMAN NASIONAL TESSO NILO PERBARUI KOLABORASI UNTUK KURANGI KONFLIK MANUSIA DENGAN GAJAH

Maret 23, 2021


Riau, Indonesia, 23 Maret 2021 – Grup Musim Mas memperbarui kerjasamanya dengan Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo (YTNTN) untuk tahun ke-14. Kemitraan ini bertujuan untuk memitigasi konflik manusia dengan gajah di Lanskap Tesso Nilo, termasuk Taman Nasional Tesso Nilo, Pelalawan, Riau, Indonesia, termasuk juga bekerja sama dengan Pemerintah Riau dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).


Tim Flying Squad kami: Nurdinsyah, Rio, dan Wira Ganda, berpatroli dengan gajah terlatih kami, Dono (kiri) dan Novi (kanan)

Kolaborasi ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas tim yang disebut Flying Squad, mengedukasi masyarakat setempat tentang kerentanan gajah dan visi koeksistensi antara gajah dan masyarakat.

Tahun ini, Musim Mas menjanjikan USD 130.000 (Rp 1,8 miliar) untuk mendanai proyek tersebut selama tiga tahun ke depan mulai Februari ini. Sebagian dari dana kami akan digunakan untuk memperkenalkan teknologi baru ke dalam proyek, seperti drone, kalung Global Positioning System (GPS) untuk gajah, dan sistem pelacakan satelit.

Teknologi ini akan memberikan peringatan ke tim ketika gajah tersasar dan posisinya terlalu dekat dengan habitat manusia, mulai dari memantau gajah hingga memberdayakan Flying Squad. Pendekatan ini akan lebih melindungi gajah dan manusia di lanskap yang rentan.

Proyek ini juga sejalan dengan visi konservasi Pemerintah untuk Riau. Kami telah mengembangkan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) untuk gajah melalui kemitraan kami dengan pemangku kepentingan lokal. SRAK merupakan pedoman daerah tentang pengelolaan gajah.

Pertama kali dimulai pada tahun 2006, kemitraan Musim Mas dengan Flying Squad terus diperbarui mengingat kemajuan proyek dan komitmen kami untuk mencapai hasil konservasi. Selama tiga tahun terakhir, YTNTN telah melaporkan nol kematian gajah akibat konflik, peningkatan populasi gajah, dan penurunan insiden pembunuhan gajah.

“Mitigasi konflik manusia dengan gajah akan berkontribusi pada pelestarian spesies gajah dan habitatnya. Ini juga merupakan bagian dari komitmen keberlanjutan Musim Mas untuk memberikan dampak lingkungan yang positif, dan Flying Squad adalah pendekatan yang inovatif,” kata Olivier Tichit, Direktur Rantai Pasokan Berkelanjutan Musim Mas. “Dalam skala yang lebih luas, kami senang dapat berkontribusi dalam pengembangan Rencana Aksi Nasional Indonesia untuk konservasi gajah dengan melanjutkan proyek ini di Taman Nasional Tesso Nilo.”

“Kerjasama PT Musim Mas dan YTNTN dalam memitigasi Konflik Manusia-Gajah di Lanskap Tesso Nilo telah berhasil mengurangi kematian gajah dan kerugian manusia akibat konflik ini. Sebuah tim mitigasi (juga dikenal sebagai Flying Squad) yang terdiri dari Mahouts dan gajah tawanan didanai untuk merespons konflik dengan cepat. Pada 2020, kematian gajah karena penyebab non-alam di Tesso Nilo hanya akan terjadi dua kali, dan semakin banyak konflik yang dapat dimitigasi,” kata Yuliantony, Direktur Eksekutif YTNTN. “Kerjasama ini bisa menjadi model dalam konservasi gajah, khususnya dalam mengurangi dampak negatif konflik manusia-gajah. Kami berterima kasih kepada PT Musim Mas atas kontribusinya dalam melindungi gajah di Tesso Nilo.”

Flying Squad yang dikelola oleh YTNTN, dan PT Musim Mas telah memberikan kontribusi besar dalam mengelola kesejahteraan Gajah Sumatera. Dengan kerja keras dan gerak cepat, Flying Squad membantu Balai Taman Nasional Tesso Nilo mengurangi jumlah konflik manusia-gajah di bagian utara kawasan Taman Nasional Tesso Nilo dan zona penyangganya. Sekaligus meningkatkan kesadaran konservasi keanekaragaman hayati bagi masyarakat sekitar,” kata Andre Hansen Siregar, S.Hut., T., M, Sc., Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo. “Sebagai bagian dari Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Gajah Sumatera, keberadaan Flying Squad sangat membantu pemerintah dalam menjaga populasi Gajah Sumatera di Provinsi Riau. Kami memberikan apresiasi dan berharap kerjasama ini dapat berlanjut untuk jangka waktu yang lama.”

language Bahasa
language