
Associate Professor Janice Lee dari NTU bersama perwakilan asosiasi pekebun di Pelalawan–Siak.
Kolaborasi jangka Panjang ini bertujuan meneliti faktor-faktor yang memotivasi pekebun swadaya untuk mengadopsi praktik kelapa sawit berkelanjutan, serta memahami bagaimana perilaku tersebut dapat menyebar di dalam komunitas perkebunan di Indonesia.
9 Februari 2025, Singapura — Musim Mas Group bersama para ilmuwan dari Nanyang Technological University (NTU Singapura) memulai kolaborasi riset jangka Panjang untuk memahami faktor-faktor yang memotivasi pekebun swadaya kelapa sawit mengadopsi praktik kelapa sawit berkelanjutan, serta bagaimana perilaku tersebut dapat menyebar di dalam komunitas perkebunan.
Dipimpin oleh Associate Professor Janice Ser Huay Lee dari Asian School of the Environment, NTU Singapura, penelitian ini akan berfokus pada pekebun swadaya di Provinsi Riau, Indonesia, termasuk yang tergabung maupun yang tidak tergabung dalam Asosiasi Perkebunan Swadaya Kelapa Sawit Pelalawan Siak (APSKS-PS), sebuah asosiasi pekebun yang didukung Musim Mas. Studi ini akan mengeksplorasi faktor perilaku, sosial, dan spasial yang membentuk bagaimana praktik berkelanjutan dipelajari, dibagikan, dan diadopsi.
Meskipun industri kelapa sawit telah membuat kemajuan dalam mendorong keberlanjutan di kalangan pekebun swadaya, tingkat adopsinya masih belum merata. Program pelatihan saja sering kali tidak cukup untuk menghasilkan perubahan perilaku yang berkelanjutan. Faktor seperti kepercayaan, jaringan sesama pekebun, persepsi manfaat, serta akses terhadap informasi yang andal memainkan peran penting dalam memengaruhi keputusan pekebun. Untuk memperluas penerapan keberlanjutan secara efektif, sektor ini perlu memahami bagaimana dan mengapa pekebun memilih untuk mengubah praktik mereka.
Para peneliti NTU akan mengombinasikan analisis spasial, pemetaan jaringan sosial, dan survei skala besar untuk mempelajari komunitas pekebun swadaya. Proyek ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang paling memengaruhi penyebaran perilaku berkelanjutan, sekaligus memberikan wawasan berbasis bukti bagi perusahaan dan pembuat kebijakan dalam mendorong praktik keberlanjutan di kalangan petani kecil mandiri.
Musim Mas menjalankan program pemberdayaan pekebun swadaya terbesar di Indonesia, dengan melatih lebih dari 40.000 pekebun sejak 2015. Perusahaan menjadikan pelatihan pekebun sebagai pilar utama upaya keberlanjutannya, meskipun pekebun swadaya tersebut tidak secara langsung memasok ke perusahaan, dengan pemahaman bahwa membantu pekebun menanam dan melakukan peremajaan secara berkelanjutan merupakan kunci bagi kesehatan jangka panjang industri kelapa sawit.
Kolaborasi ini mendukung komitmen Musim Mas terhadap keberlanjutan berbasis sains dan memperkuat kemitraan dengan institusi riset terkemuka seperti ETH Zurich, University of Cambridge, dan IPB University.
“Untuk menumbuhkan keberlanjutan, kita perlu memahami apa yang benar-benar memotivasi pekebun untuk berubah dan bagaimana perubahan tersebut menyebar dalam komunitas,” ujar Rob Nicholls, General Manager Programs and Projects di Musim Mas. “Kolaborasi dengan ilmuwan NTU ini akan membantu perusahaan beralih dari sekadar mengajarkan keberlanjutan menjadi benar-benar memahaminya, sehingga program perusahaan dapat menjadi lebih efektif, inklusif, dan berkelanjutan secara mandiri.”
Musim Mas akan memfasilitasi akses lapangan dan pengumpulan data untuk studi ini, yang akan dipimpin secara mandiri oleh tim NTU.
Kolaborasi ini sejalan dengan kekuatan Asian School of the Environment dalam riset lingkungan multidisipliner, khususnya yang berfokus pada dimensi sosial keberlanjutan di Asia Tenggara.
“Pekebun swadaya memegang peran penting dalam lanskap kelapa sawit, namun proses pengambilan keputusan dan jaringan sosial mereka sering kali kurang diperhatikan,” ujar Associate Professor Janice Ser Huay Lee dari NTU. “Melalui kemitraan ini, perusahaan berharap dapat mengungkap bagaimana pengetahuan, kepercayaan, dan pengaruh membentuk adopsi praktik kelapa sawit berkelanjutan serta wawasan yang dapat membantu merancang intervensi yang lebih efektif dan adil di kawasan ini.”
Proyek ini berlangsung sekitar 2 tahun 9 bulan sejak Juni 2025 dan akan berakhir pada Maret 2028, dengan kunjungan lapangan ke Kabupaten Pelalawan dan Siak, Riau. NTU bekerja sama dengan tiga universitas Indonesia lainnya, yaitu Universitas Sumatera Utara, IPB University, dan Universitas Riau. Hasil penelitian ini akan menjadi dasar perancangan program dan strategi pelibatan pekebun swadaya di masa depan, dengan potensi penerapan di sektor perkebunan berbasis pekebun swadaya lainnya di Asia Tenggara.
Tentang Musim Mas
Musim Mas Group adalah perusahaan kelapa sawit terintegrasi yang beroperasi di 13 negara. Dari perkebunan hingga pabrik kelapa sawit, kilang, pabrik pengolahan inti sawit, oleokimia, hingga pabrik lemak khusus, Musim Mas memproduksi produk sawit dan turunannya yang bernilai tambah. Musim Mas merupakan salah satu produsen dan eksportir domestik terbesar di Indonesia. Inter-Continental Oils and Fats (ICOF), anggota Musim Mas Group, menangani aktivitas pemasaran global.
Perusahaan berkomitmen pada keberlanjutan dan menjadi perusahaan pertama dengan operasi signifikan di Indonesia yang bergabung dengan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) pada tahun 2004. Musim Mas juga menjadi penandatangan Agriculture Sector Roadmap to 1.5 Degrees yang diprakarsai oleh Tropical Forest Alliance, yang bertujuan menghentikan deforestasi terkait komoditas sejalan dengan jalur 1,5 derajat serta meningkatkan kesejahteraan pekebun swadaya. Pada Januari 2024, Musim Mas mengumumkan target untuk mencapai net zero pada tahun 2050, sejalan dengan sains iklim melalui Science Based Targets Initiative (SBTi). Musim Mas juga mengelola program pekebun swadaya terluas di Indonesia.
Mengusung slogan “One Ingredient, Thousand Opportunities”, bagi Musim Mas, sawit merupakan satu bahan yang membuka begitu banyak peluang. Lebih dari sekadar bahan baku penting, sawit turut meningkatkan kesejahteraan, mendukung program pemerintah, memberdayakan masyarakat, dan menjaga kelestarian lingkungan. Bagi kami, sawit adalah gerbang untuk menciptakan nilai yang bermakna dan berkelanjutan bagi manusia, masyarakat, serta bumi.
Tentang Nanyang Technological University
Nanyang Technological University, Singapura (NTU Singapura) adalah universitas negeri berbasis riset dengan sekitar 35.000 mahasiswa sarjana dan pascasarjana di bidang Bisnis, Komputasi & Sains Data, Teknik, Humaniora, Seni & Ilmu Sosial, Kedokteran, Sains, dan Sekolah Pascasarjana.
Asian School of the Environment (ASE) di NTU Singapura merupakan sekolah yang berfokus pada keterkaitan antara geosains, ekologi, masyarakat, dan sistem Bumi. ASE mengintegrasikan disiplin ilmu tersebut untuk mengkaji tantangan lingkungan besar di Asia Tenggara dan secara global, termasuk ekologi, bahaya geologi, perubahan iklim, kenaikan muka air laut, keberlanjutan lingkungan, konservasi lingkungan dan keanekaragaman hayati, serta interaksi antara lingkungan dan masyarakat.



