Multiple Suppliers (Leuser Ecosystem)

1) Laporan Rainforest Action Network (RAN) yang berjudul, “The Last Place On Earth – Exposing The Threats To The Leuser Ecosystem: A Global Biodiversity Hotspot Deserving Protection” (11 November 2014)

2) Laporan Rainforest Action Network (RAN) yang berjudul, “The Last Place On Earth – Tracking Progress And New Opportunities: To Protect The Leuser Ecosystem” (10 November, 2015)

3) Laporan Rainforest Action Network (RAN) yang berjudul, “Protecting the Leuser Ecosystem: A Shared Responsibility” (06 November 2016)

4) Laporan Rainforest Action Network (RAN) yang berjudul, “Illegal Deforestation of Elephant Habitat by PT ABN Uncovered within the Leuser Ecosystem” (28 Februari 2017)

5) Laporan Rainforest Action Network (RAN) yang berjudul, “PT Agra Bumi Niaga: Continues To Destroy Elephant Habitat And Sell Conflict Palm Oil To Suppliers of Major Brands Across The Globe” (Juli 2017)

Untuk informasi lebih lanjut, mengenai inisiasi kami di Leuser, silahkan download factsheet kami.

(1) Laporan pertama menyoroti sejumlah perusahaan yang beroperasi baik secara legal maupun illegal di kawasan Ekosistem Leuser yang dilindungi. Secara umum, laporan ini memaparkan bukti keterkaitan refineri Grup Musim Mas dan BUMN, PTPN II dengan PKS yang memproduksi minyak sawit dari buah sawit yang ditanam dalam Ekosistem Leuser.

(2) Laporan kedua menyoroti usaha yang dilakukan oleh Wilmar International, Grup Musim Mas dan Golden Agri Resources serta rancangan kerja mereka yang akan diterapkan untuk melindungi Ekosistem Leuser.

(3) Laporan ketiga menyoroti bukti lebih lanjut mengenai kasus pembukaan hutan untuk dijadikan Perkebunan kelapa sawit yang memasok ke pabrik sekitar meskipun terdapat moratorium perluasan Perkebunan kelapa sawit. Laporan ini juga menyoroti hubungan kerjsama yang terus berlanjut dengan Wilmar International, Grup Musim Mas dan Golden Agri Resources – dijuluki ‘Big Three Buyers’- yang memiliki sumber Minyak kelapa sawit yang tidak bertanggung jawab didaerah ini.

(4) dan (5) Dalam artikel yang ditulis oleh RAN, RAN melakukan investigasi lapangan yang diduga ditemukan bukti aktif, penebangan ilegal di habitat gajah Sumatera yang terancam punah didalam hutan hujan ekosistem Leuser. Pemasok yang dimaksud adalah produsen Kelapa Sawit yang dikenal sebagai PT Agra Bumi Niaga (PT ABN) yang memasok ke pabrik pengolahan kelapa sawit tetangga yang dioperasikan oleh PT Koperasi Prima Jasa (KPJ) yang memasok ke pembeli utama.

Menurut RAN, aktifitas yang terdokumentasi tersebut melanggar moratorium yang dibuat oleh Presiden Indonesia pada bulan April 2016 dan instruksi dari Gubernur Aceh pada tanggal 17 Juni 2016 yang memerintahkan perusahaan tersebut untuk menghentikan semua kegiatan pembukaan hutan, termasuk di wilayah telah memiliki izin.

Kami secara aktif melakukan pendekatan dengan pemasok yang berlokasi di dalam Ekosistem Leuser sejak RAN mempublikasikan laporan pertamanya pada bulan November 2014. Pendekatan kami dengan pemasok lain yang beroperasi didalam kawasan Ekosistem Leuser dapat ditemukan di sini:

Januari 2015 (Sisirau)
Melakukan diskusi dengan Sisirau untuk memahami situasinya, setelah ditangguhkan oleh RSPO, karena kegagalannya dalam menyerahkan analisis perubahan penggunaan lahan dan persetujuan kompensasi.

Juni 2016 (Ensem Lestari)
Melakukan penilaian pabrik dengan menggunakan jasa penilai pihak ketiga. Berdasarkan hasil penilaian risiko, Ensem Lestari ditemukan memiliki beberapa potensi risiko.

Agustus 2016 (Bangun Sempurna Lestari)
Melakukan penilaian pabrik dengan perantara jasa penilai pihak ketiga.

Berdasarkan hasil penilaian resiko, Bangun Sempurna Lestari ternyata memiliki potensi resiko.

April 2017 (Pemasok di Kabupaten Singkil)
Kami mengirimkan surat kepada ketiga pemasok ini: Bangun Sempurna Lestari, Delima Makmur, Ensem Lestari, Global Sawit Semesta, Nafasindo, Perkebunan Lembah Bhakti, untuk menanyakan keterkaitan mereka dengan PT Indo Sawit Perkasa, yang ditemukan secara aktif membuka lahan di hutan hujan tropis, Singkil Bengkung.

Lanskap Aceh Leuser merupakan prioritas pendekatan kami dengan industri. Kami bekerjasama dengan pemain utama kelapa sawit lainnya dalam upaya pemangku kepentingan untuk mengidentifkasi solusi lanskap yang dapat diperkirakan.

Fokus wilayahnya mencakup Aceh Tamiang, Aceh Timur dan Aceh Singkil. Lanskap pemangku kepentinggan akan melibatkan pemerintah lokal dalam pengembangan kebijakan dan perencanaan tata ruang, mengidentifikasi LSM lokal untuk mempelopori proyek tersebut. Kami akan terus memfollow-up lebih rinci mengenai pengerjaan lanskap dalam waktu dekat.

Juni 2017
Kami menyelesaikan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) untuk mengembangkan platform berbagai pemangku kepentingan yang melibatkan pemerintah lokal dan organisasi pendonor, Sustainable Trade Initiative (IDH). Pihak lain yang juga termasuk adalah produser kelapa sawit dan konsultan teknikal seperti The Forest Trust (TFT).

Inisiasi ini akan dimulai dengan perencanaan pengunaan lahan dan ketentuan penyediaan pelayanan untuk meningkatkan hasil minyak sawit dan praktek keberlanjutan dalam lanskap yang berkaitan dengan Petani kecil .

language Bahasa
language