Felda Global Venture (FGV)

Berawal dengan nama Federal Land Development Authority (FELDA). FGV Holdings Berhad adalah anggota RSPO. Pelacak kasus RSPO yang relevan adalah:
a) terkait dengan keluhan yang dibuat oleh masyarakat Desa Begahak dapat dilihat di sini.
b) terkait dengan artikel Wall Street Journal dapat dilihat di sini.
c) terkait dengan penelitian Chain Reaction dapat dilihat di sini.

1) Wall Street Journal mempublikasikan sebuah laporan mengenai Felda/FGV yang berjudul: “Palm OIl Migrant Workers tell of abuses on Malaysian Plantations” (Juli 2015)

2) Laporan Chain Reaction Report yang berjudul, “The Chain: EXCLUSIVE – FGV Risks Supply Chain Exclusion Over Repeat Offenses” (18 April 2017)

3) Laporan Chain Reaction Report yang berjudul, “The Chain: Felda Global Ventures Allegedly Defying Government of Indonesia Peatland Laws, Company Disagrees” (10 Mei 2017)

4) Publikasi Greenpeace, yang berjudul “Palm Oil Alert” (Juli 2017)

5) Laporan Greenpeace yang berjudul “Final Countdown: Now or Never to Reform the Palm Oil Industry” (19 September 2018)

6) Laporan Mighty Earth “Rapid Response Report 9” (Oktober 2018)

7) Petisi Grant & Eisenhofer ESG Institute yang berjudul, “Grant & Eisenhofer ESG Institute Petitions US Government to Block Importation of Palm Oil Produced by FGV Holdings Berhad in Malaysia, Based on Evidence of Child and Forced Labor Practices” (24 Juni 2019)

8) Petisi International Labor Rights Forum (ILRF), Rainforest Action Network dan SumOfUs yang berjudul, “NGOs Call on US Customs to Block Import of Forced Labour Palm Oil” (15 Agustus 2019)

9) Laporan Mighty Earth yang berjudul, “Rapid Response Report 20” (12 Oktober 2019)

(1) Wall Street Journal mempublikasikan sebuah laporan yang menyoroti perusahaan yang melakukan eksploitasi hak asasi manusia dan hak ketenagakerjaan.

(2) Chain Reaction Research mempublikasikan sebuah artikel – “FGV Risks Supply Chain Exclusion Over Repeat Offenses“, yang menduga FGV melakukan deforestasi dan melakukan pembukaan di Lahan Gambut .

(3) Chain Reaction Research mempublikasikan sebuah laporan berjudul: “Felda Global Ventures Allegedly Defying Government of Indonesia Peatland Laws, Company Disagress“, mengenai dugaan deforestasi dan pembukaan Lahan Gambut yang dilakukan oleh Felda.

(4) Greenpeace mempublikasikan sebuah pengumumam mengenai Felda/FGV dan mengulangi dugaan bahwa Felda/FGV telah melakukan pembukaan di Lahan Gambut , hutan dan memiliki masalah sosial dengan para pekerja migran.

(5) Greenpeace mengatakan bahwa Felda masih terus menebangi hutan dan Lahan Gambut pada Mei 2015 hingga April 2018.

(6) Might Earth menerbitkan laporan tentang dugaan penggunaan api untuk pembukaan lahan di Kalimantan Barat, Indonesia oleh salah satu anak perusahaan Felda Global Ventures di Indonesia, PT Temila Agro Abadi.

(7) Grant & Eisenhower mengajukan petisi kepada Customs and Border Protection (CBP) Amerika Serikat untuk larangan impor Minyak kelapa sawit yang diproduksi oleh FGV karena bukti yang tersebar mengenai kerja paksa dan praktik mempekerjakan anak di bawah umur di dalam Perkebunan mereka.

(8) LSM mengajukan petisi kepada CBP AS untuk larangan impor minyak sawit yang diproduksi oleh FGV karena masalah ketenagakerjaan dan hak asasi manusia dan mengajak merek-merek global untuk memutus hubungan dengan FGV.

(9) Laporan tersebut menduga adanya pembukaan lahan pada tutupan pohon lebat (deforestasi) di konsesi PT Citra Niaga Perkasa (PT CNP) sekitar 4 ha dari tanggal 22 Mei 2019 – 21 Agustus 2019.

Juli 2015
Kami menerapkan sistem ‘controlled purchase‘ pada Juli 2015 dan kami melanjutkan memonitor pengembangan komplain dengan RSPO.

Oktober 2015
Kasus WSJ juga telah di masukkan ke Panel Komplain RSPO. Kasus dapat ditemukan di sini.

Sebagai anggota RSPO, kami menghargai prosedur komplain RSPO dan kami akan bertindak sesuai dengan setiap keputusan yang dinyatakan oleh Panel Komplain RSPO.

Juli 2016
Kami meninjau kembali hubungan perdagangan dengan FGV dan rencana aksinya.

Kami memutuskan untuk melanjutkan hubungan dagang dengan FGV setelah melihat komitmen mereka untuk menerbitkan rencana aksi.

Agustus 2016
Kami melakukan pertemuan dengan manajemen FGV mengenai pilihan keberlanjutan dan mengajukan kunjungan pabrik.

Kami melakukan pendekatan dengan Greenpeace via email dan menginformasikan bahwa kami telah menerapkan sistem ‘controlled purchase‘ sejak Oktober 2015 – Mei 2016 dan mulai membeli membeli lagi sejak Mei 2016 – November 2016.

Mei 2018
Musim Mas menindaklanjuti dengan Felda, agar menanggapi masalah tenaga kerja dan gambut mereka.

Juli 2019
Kami mengadakan pertemuan fisik pada 19 Juli 2019 di kantor pusat FGV dengan Head of Sustainability Engagement FGV dan timnya.

Hal yang didiskusikan mengenai petisi Grant & Eisenhofer dan rencana aksi FGV serta progres kemajuan implementasi dan juga inisiatif lain yang rencananya akan diambil oleh FGV untuk memastikan semua rencana aksi dilaksanakan secara progresif.

Oktober 2019
Kami melakukan pendekatan dengan FGV setelah menerima laporan dari Mighty Earth RRR 20 tersebut.

Januari 2020
Kami mencatat surat RSPO CP tertanggal 13 Januari 2020 dan penangguhan sertifikat P&C RSPO Kilang Sawit Serting. Kami juga mencatat bahwa FGV telah menerbitkan jawaban mereka di sini.

Kilang Sawit Serting telah dimasukkan dalam Protokol Pembelian Terkendali Musim Mas pada 21 Januari 2020, dan FGV telah diberikan informasi.

Sesuai dengan CPP kami, kami menunda proses RSPO, dan akan cermat mengikuti perkembangan kasus ini.

Agustus 2015
FGV membentuk tim respon keberlanjutan untuk mengetahui kritik yang diberikan oleh pemangku kepentingan. Sebagai informasi, silahkan merujuk pada website ini untuk perkembangan lebih lanjut.

Maret 2016
FGV menerbitkan laporan verifikasi sosial tentang operasinya.

Juli 2016
Felda mempublikasikan rencana kerja mereka untuk kembali melakukan sertifikasi pabrik, dengan mengikuti komplain WSJ dan penemuan verifikasi audit ASI.

Januari 2017
Felda mempublikasikan laporan perkembangan lebih lanjut mengenai inisiatif keberlanjutannya.

Mei 2017
Felda memberi respon kepada Chain Reaction Research melalui pernyataan yang diumumkan ke Bursa KL.

Panel Komplain RSPO akan meninjau kembali rancangan kerja sesuai dengan komplain WSJ.

Agustus 2017
Felda mengumumkan Kebijakan Keberlanjutan Perusahaan yang telah dikembangkan dan berkomitmen terhadap hal-hal di bawah ini:

a) Tidak melakukan deforestasi di wilayah Bernilai Konservasi dan Karbon Tinggi (HCV, HCS), dan di Lahan Gambut terlepas dari kedalamannya;

b) Mengadopsi praktek pengelolaan terbaik di Lahan Gambut yang ada; dan berusaha untuk merehabilitasi semua Lahan Gambut yang telah ditanam, diatas tanggal 25 Agustus 2016 (sesuai dengan panduan rehabilitasi RSPO, dan berkonsultasi dengan Badan Restorasi Gambut Indonesia);

c) Menghentikan semua pengembangan di Lahan Gambut tanpa memperhatikan tanggal akuisisi lahan meskipun telah mendapat persetujuan NPP RSPO sebelumnya.

Felda telah menghentikan semua pengembangan lahan baru di PT Temila Agro Abadi (PT TAA) dan PT Citra Niaga Perkasa (PT CNP) sejak tanggal 25 April 2017. Permasalahan muncul kembali ketika dilakukan pengembangan selama dua minggu pada bulan Mei 2017 oleh PT TAA sejak masalah tersebut diselesaikan. Dengan peningkatan Kebijakan Keberlanjutan Perusahaannya, Felda telah mengumumkan pengembangan di PT TAA dan PT CNP akan di hentikan secara permanen.

Mereka juga akan melakukan pendekatan dengan masyarakat lokal dan merumuskan program-program untuk mengatasi masalah mereka.

September 2017
Panel Komplain RSPO akan meninjau kembali laporan independen Felda sebelum melakukan investigasi dilapangan.

Oktober 2017
FGV mempublikasikan update penerapan Rancangan Kerjanya.

Januari 2018
Felda mempublikasikan perkembangan inisiasi keberlanjutannya:
a) Delapa pabrik mendapatkan sertifikat RSPO

b) Berkonsultasi dengan Badan Restorasi Gambut (BRG) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengenai restorsi gambut dan bekerja sama dengan RSPO untuk melakukan investigasi independen mengenai dugaan pembukaan lahan di Kalimantan.

c) Mengumumkan rencana utama pengelolaan Lahan Gambut tentatif.

d) Felda juga melakukan verifikasi independen atas konflik masyarakat di PT Temila Agri Abadi (PT TAA).

Dokumen lengkapnya dapat diakses di sini.

April 2018
FGV mengumumkan perkembangan terbarunya mengenai kepatuhan sosial dan prakarsa hak asasi manusia terkait dengan dugaanWall Street Journal (WSJ), dalam keterlibatan dengan Lahan Gambut dan pendekatan Stok Karbon Tinggi (HCS).

Dokumen ini berisi daftar semua tindakan yang telah dilakukan untuk mengatasi dugaan dan batas waktu.

Laporan perkembangannya dapat ditemukan di sini.

Mei 2018
FGV mempublikasikan sebuah pernyataan yang menegaskan pendiriannya terhadap komitmen keberlanjutan.

Agustus 2018
FGV menerbitkan pernyataan tentang penebangan hutan dan gambut oleh PT TAA di sini. Perusahaan memiliki perintah stop-work sejak April 2017.

September 2018
FGV mengeluarkan tanggapan atas laporan Greenpeace (Final Countdown), serta memberikan update tentang sertifikasi RSPO mereka, permasalahan di Kalimantan (rencana untuk restorasi gambut dan upaya mendukung kesejahteraan masyarakat lokal yang terdampak oleh SWO), serta penilaian HCS di APL.

November 2018
Panel Pengaduan RSPO merilis pengumuman publik mengenai keputusannya atas kasus tersebut di sini. Keputusan telah dibuat untuk Badan Sertifikasi untuk menangguhkan sertifikat P&C FGV untuk Kilang Sawit Serting dan basis pasokannya, dan penangguhan hanya akan dicabut setelah FGV telah memenuhi arahan Panel Keluhan dalam surat tersebut.

FGV menerbitkan pernyataan tentang surat keputusan RSPO di sini, menegaskan kepatuhan mereka terhadap semua Prinsip dan Kriteria RSPO dengan mengambil langkah-langkah untuk segera mengatasi semua masalah yang diangkat.

Desember 2018
Pada tanggal 7 Desember, Felda menerbitkan surat kepada semua mitra bisnisnya, untuk menegaskan kembali komitmennya kepada RSPO dan mengumumkan program transformasi yang telah dikembangkan untuk memulihkan integritas operasionalnya.

Pada tanggal 14 Desember, FGV menerbitkan laporan mengenai kemajuan Serting Estates yang menjadi subjek investigasi RSPO.

Maret 2019
RSPO menyetujui permintaan perpanjangan periode penyerahan rencana aksi Felda.

Juni 2019
Pada 21 Juni, FGV menerbitkan surat kepada semua pemegang sahamnya, mengenai kemajuan mereka dalam transformasi operasional mereka. Surat itu juga membahas sertifikasi RSPO yang sedang berlangsung tentang Perkebunan Serting. Mereka mengkonfirmasi bahwa FGV mengajukan rencana aksi dan bahwa RSPO akan melakukan audit lain di Serting untuk memverifikasi kemajuan mereka.

FGV menerbitkan tanggapan terhadap petisi Grant & Eisenhofer di situs web mereka pada tanggal 26 Juni 2019. FGV menekankan bahwa masalah yang diangkat dalam petisi adalah sejak 2015 dan bahwa mereka telah mengambil tindakan yang diperlukan untuk memperbaiki ketidakpatuhan yang diangkat. Tanggapan tersebut mencakup Laporan Perkembangan Triwulanan dari implementasi Rencana Aksi.

Agustus 2019
Pada 5 Agustus 2019, RSPO menerbitkan surat untuk mengumumkan keputusan Panel Pengaduan untuk mencabut penangguhan di Kompleks Serting FGV karena FGV telah memenuhi persyaratan utama yang ditetapkan oleh Panel Pengaduan.

RSPO menutup kasus ini pada 05 Agustus 2019.

FGV juga menerbitkan pernyataan di situs web mereka tentang keputusan RSPO untuk mencabut penangguhan di Kompleks Serting mereka. Pernyataan oleh FGV dapat ditemukan di sini.

FGV telah merilis tanggapan mereka terhadap petisi terbaru oleh ILRF, RAN dan SumOfUs kepada US CBP pada 19 Agustus 2019. Respons mereka dapat ditemukan di sini.

September 2019
Kami menerima pernyataan dari CEO Grup FGV tertanggal 17 September 2019 yang menegaskan kembali komitmen mereka untuk menegakkan hak asasi manusia dan standar perburuhan internasional di seluruh operasi mereka. Surat itu dapat ditemukan di sini.

FGV, bersama dengan Procter & Gamble (P&G) akan melakukan kolaborasi jangka panjang dengan kelompok masyarakat sipil internasional untuk meningkatkan standar perburuhan dan hak asasi manusia. P&G merilis pernyataan tentang dukungan mereka untuk proyek di situs web mereka dan pernyataan mereka dapat ditemukan di sini.

Oktober 2019
FGV mengklarifikasi bahwa lokasi pembukaan lahan yang terdapat dalam laporan merupakan lahan milik masyarakat setempat. Pembukaan lahan tersebut telah dilakukan oleh pemilik lahan sejak Juni 2019 untuk penanaman padi.

FGV Kalimantan (PT. CNP & PT. TAA) telah memberlakukan “stop-work order” dari bulan Mei 2017 dan sejak itu FGV Kalimantan belum melakukan pembukaan lahan kecuali untuk pemeliharaan jalan, saluran air dan batasan selokan.

Januari 2020
Panel Keluhan RSPO (CP) menerbitkan surat keputusan (tanggal 13 Januari 2020) tentang ketidakpatuhan dengan Keputusan Panel Keluhan sebelumnya. Surat itu dapat ditemukan di sini.

Setelah pencabutan bersyarat penangguhan Kilang Sawit Serting dan basis pasokan FGV pada Agustus 2019, Badan Sertifikasi (BS) diinstruksikan untuk melakukan audit verifikasi pada enam unit FGV yang berbeda. Hasil audit ditemukan tidak memuaskan, dan ketidakpatuhan dicatat.

Sekretariat RSPO diharuskan menginstruksikan BS untuk menangguhkan kembali sertifikat P&C FGV untuk Kilang Sawit Serting dan basis pasokannya, dan untuk menangguhkan semua proses sertifikasi untuk unit manajemen yang tidak bersertifikat dalam FGV, efektif 13 Januari 2020. Pengangkatan suspensi bersyarat setelah implementasi FGV yang memuaskan atas keputusan CP.

34 unit bersertifikasi RSPO lainnya yang dikelola oleh FGV tetap tersertifikasi.

RSPO menerbitkan pernyataan tentang keputusan CP tentang FGV Holdings di sini.

language Bahasa
language